Program Studi Tadris Biologi FTIK TADRISBIO
(FTIK) UIN KHAS Jember sukses menggelar kegiatan Kuliah Tamu untuk Mata Kuliah
Evolusi dengan mengusung topik utama mengenai bukti ilmiah dan variasi dalam
evolusi manusia. Kegiatan akademik tersebut dilaksanakan pada hari Jumat
(09/10/2026) yang diikuti sebanyak kurang lebih 70 peserta, terdiri dari mahasiswa
yang menempuh mata kuliah evolusi, dosen, peneliti, serta akademisi dari dalam
dan luar UIN KHAS Jember. Kegiatan tersebut
dilangsungkan secara daring melalui zoom meeting. Acara ini
menghadirkan pakar biologi manusia terkemuka dari Departemen Biologi Fakultas
MIPA Universitas Padjadjaran (Unpad), yaitu Dr. Eneng Nunuz Rohmatullayaly,
S.Si., M.Si., sebagai narasumber utama.
Kuliah Tamu tersebut dipandu secara interaktif oleh Dr. Husni
Mubarok, S.Pd., M.Si., selaku dosen di Program Studi Tadris Biologi UIN KHAS
Jember sekaligus dosen pengampu Mata Kuliah Evolusi. Kehadiran narasumber dalam
forum ilmiah ini memberikan angin segar bagi para mahasiswa untuk mendalami
konsep evolusi secara lebih komprehensif, tidak hanya berhenti pada teori
klasik, melainkan dikaitkan langsung dengan bukti-bukti empiris yang terjadi
pada populasi manusia modern saat ini.
Dalam pemaparannya, Dr. Eneng Nunuz Rohmatullayaly menjelaskan bahwa
evolusi biologi mencakup sejarah perkembangan makhluk hidup, eksistensi,
kepunahan, asal-usul spesies, serta hubungan kekerabatan yang didukung oleh
pilar riwayat bumi dan geografi. Pemateri menguraikan berbagai mekanisme
evolusi, mulai dari mutasi gen, gene flow, genetic drift, hingga
seleksi alam yang melahirkan konsep survival of the fittest.
Perbandingan antara mikroevolusi dan makroevolusi turut dibahas guna
memperjelas bagaimana perubahan skala kecil dalam rentang waktu tertentu dapat
mengarah pada terbentuknya spesies baru.
Lebih lanjut, narasumber membedah topik spesifik mengenai adaptasi
manusia (human adaptation) melalui studi kasus kelompok masyarakat
tradisional di Indonesia, salah satunya Suku Baduy. Berdasarkan penelitian
antropologi dan biologi populasi, masyarakat Suku Baduy menunjukkan bentuk developmental
plasticity berupa ukuran tubuh yang lebih kecil namun sehat (small but
healthy) sebagai bentuk kompromi dan alokasi energi di tengah keterbatasan
sumber daya serta aktivitas fisik yang intens. Penyesuaian somatotipe yang lebih
condong ke arah mesomorph ini sangat mendukung mobilitas mereka di medan
pegunungan yang curam.
Tidak hanya Suku Baduy, materi kuliah tamu juga mengeksplorasi
bentuk adaptasi genetik luar biasa pada kelompok populasi lain seperti Suku
Bajo yang memiliki ukuran limpa lebih besar dan gen pengendali aliran darah
untuk mendukung aktivitas menyelam bebas, serta masyarakat Tibet yang
beradaptasi di dataran tinggi dengan bantuan gen EPAS1. Perbedaan
mendasar antara aklimatisasi yang bersifat sementara dan adaptasi genetik yang
permanen antar-generasi diulas secara mendalam guna membuktikan bahwa proses
evolusi pada manusia (Homo sapiens) masih terus berlangsung hingga hari
ini.
Menjelang akhir acara, sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung
dengan sangat antusias di mana para mahasiswa Tadris Biologi UIN KHAS Jember
aktif mengajukan berbagai pertanyaan kritis kepada narasumber. Melalui Kuliah
Tamu ini, mahasiswa diharapkan mampu memperluas wawasan keilmuan biologi
evolusioner, memahami kompleksitas strategi bertahan hidup manusia (life
history theory), serta mengaplikasikan pemahaman bukti ilmiah dalam studi
biologi modern. (HM)