Kuliah Tamu Sosio-Ekologi Tapal Kuda UIN KHAS Jember: Menakar Masa Depan Ekowisata antara Pelestarian Alam dan Daya Tarik Wisata
Jember — Mahasiswa Program Studi Tadris Biologi UIN KHAS Jember mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya pelestarian lingkungan dalam dunia pariwisata melalui kuliah tamu bertajuk “Masa Depan Ekowisata: Antara Pelestarian Alam dan Daya Tarik Wisata”. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Sosio-Ekologi Tapal Kuda yang diselenggarakan pada Jumat, 4 Juli 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai secara daring. Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Muhammad Abdullah, M.Sc dari Universitas Negeri Semarang sebagai narasumber utama, dengan Dr. Wiwin Maisyaroh, M.Si — pengampu mata kuliah sekaligus Koordinator Program Studi Tadris Biologi — bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Abdullah menegaskan bahwa ekowisata bukan sekadar wisata berbasis alam, melainkan kegiatan wisata yang harus mengusung prinsip edukasi, pelestarian, partisipasi masyarakat lokal, dan keberlanjutan. “Banyak yang mengira wisata alam otomatis berarti ekowisata, padahal tidak demikian. Ada prinsip-prinsip khusus yang harus dipenuhi agar wisata benar-benar memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Beliau juga menyoroti wisata pendakian yang kini digemari luas oleh masyarakat, tidak hanya karena passion terhadap alam, namun lebih banyak karena faktor tren. Fenomena mass tourism ini membawa sejumlah dampak serius terhadap kawasan hutan seperti kerusakan jalur (degradasi koridor), gangguan terhadap perilaku satwa liar, serta erosi tanah yang ditandai dengan munculnya akar pohon besar di permukaan — yang kerap disalah-pahami sebagai elemen estetik padahal justru merupakan indikasi kerusakan.
Lebih jauh, Dr. Abdullah menyoroti terjadinya erosi pengetahuan lokal yang kini semakin tampak dari generasi ke generasi. Pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pengelolaan alam dan kawasan sakral mulai ditinggalkan, seiring dengan modernisasi dan minimnya upaya integrasi kearifan lokal ke dalam sistem pariwisata. “Hilangnya pengetahuan ini juga menjadi faktor penyebab degradasi lingkungan, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya kualitas dan daya tarik wisata itu sendiri,” tegasnya. Beliau juga mendorong penerapan strategi ekowisata berdasarkan pengertian terbaru, yakni dengan menghadirkan elemen edukasi dan interpretasi melalui media interpretatif seperti papan informasi, leaflet, brosur, dan pelatihan pemandu wisata berbasis masyarakat lokal yang tersertifikasi.
Sesi diskusi berlangsung aktif. Salah satu peserta menanyakan bagaimana peran masyarakat lokal dapat ditingkatkan dalam pelestarian. Dr. Abdullah menjawab bahwa saat ini banyak masyarakat hanya dilibatkan dalam aspek pengelolaan teknis tanpa memahami nilai-nilai konservasi. “Perlu ada upaya penguatan kapasitas masyarakat lokal agar mampu menjadi interpreter atau pemandu wisata yang tidak hanya memandu jalur, tetapi juga mampu menyampaikan nilai edukatif dan pelestarian kepada wisatawan,” katanya.
Kuliah tamu ini bertujuan mengenalkan konsep dasar ekowisata dan membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap tantangan dan potensi pariwisata berkelanjutan. Diharapkan, ke depan para mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengembangkan ekowisata berbasis pelestarian dan pemberdayaan masyarakat. (WM)

