Kuliah Tamu Program Studi Tadris Biologi UIN KHAS Jember: Sejarah dan Kearifan Lokal Tapal Kuda
Jember, 12 Maret 2025 – Program Studi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) KHAS Jember mengadakan kuliah tamu dengan tema "Sejarah dan Kearifan Lokal Tapal Kuda" yang dihadiri sekitar 90 peserta, terdiri dari mahasiswa Tadris Biologi dan dosen. Kuliah ini berlangsung pada Rabu, 12 Maret 2025, pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting.
Kuliah tamu ini menghadirkan Alfisyah Nurhayati, M.Si, dosen Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN KHAS Jember, sebagai narasumber. Sebagai pakar antropologi, Alfisyah diharapkan dapat memberikan perspektif tentang sejarah dan kearifan lokal wilayah Tapal Kuda dalam konteks sosio-antropologis. Sementara itu, Dr. Wiwin Maisyaroh, M.Si, Koordinator Prodi Tadris Biologi, bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut.
Dalam pemaparan materinya, Alfisyah memulai dengan menjelaskan sejarah wilayah Tapal Kuda yang sejak zaman VOC dikenal sebagai wilayah Pandalungan, dengan akar budaya yang tidak begitu kuat dan adanya proses pencampuran berbagai etnis. Dia menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat beragam, meliputi pesisir, hutan, pertanian, dan perkebunan. Proses pembabatan hutan untuk industri adalah salah satu bentuk eksploitasi SDA yang terjadi.
Lebih lanjut, Alfisyah mengkritisi pemanfaatan SDA di Tapal Kuda yang tidak merata. Kapitalisme bergerak sangat cepat, terutama dalam sektor pertanian, yang semakin meluas dengan adanya komoditas non-lokal seperti edamame dan okra. Fenomena ini, menurutnya, dapat dilihat dari perspektif politik ekologi, di mana pergeseran fokus eksploitasi SDA beralih menjadi isu-isu yang lebih bersifat hiburan, seperti pariwisata dan acara pertunjukan seperti pawai dan karnaval.
Pembangunan infrastruktur, seperti jalur lintas selatan (JLS), yang dianggap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga menjadi sorotan. Alfisyah mengungkapkan bahwa banyak pihak bertanya-tanya, "Untuk siapa sebenarnya pembangunan ini?" Dia juga menyoroti kurangnya perhatian terhadap kelompok-kelompok marginal seperti perempuan, disabilitas, anak-anak, dan masyarakat ekonomi bawah dalam proses pembangunan tersebut.
Beberapa peserta kuliah tamu mengajukan pertanyaan seputar konservasi dan pola kemiskinan yang masih tinggi di wilayah Tapal Kuda. Alfisyah menanggapi dengan menjelaskan bahwa pada awalnya, kedatangan VOC ke wilayah ini adalah untuk berdagang, tetapi karena melimpahnya SDA, eksploitasi pun terjadi. Kekuasaan Belanda saat itu sangat kuat karena mampu membaca budaya lokal, melakukan pengalihan isu, dan mengelola konflik dengan melibatkan tokoh-tokoh lokal. Namun, masyarakat lokal yang kurang mampu membaca peluang terhadap SDA justru lebih memilih merantau ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri. Hal ini membuat alam semakin dikuasai oleh investor asing, yang berujung pada kerusakan alam.
Di akhir sesi, Alfisyah menegaskan pentingnya kemampuan untuk membaca potensi SDA dengan bijak. Ia menyarankan agar masyarakat diberikan penguatan, baik secara kelembagaan maupun individu, dengan memberdayakan masyarakat melalui regulasi yang mendukung. Gerakan masyarakat yang terorganisir, melalui LSM, NGO, dan komunitas, dapat menjadi langkah penting dalam mengelola SDA secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Kuliah tamu ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai pentingnya melestarikan kearifan lokal, menjaga kelestarian alam, serta meningkatkan kesadaran akan perlunya pengelolaan SDA yang adil dan berkelanjutan. (WM)

